Kepakan sayap burung putih …
Rrrrrrtttt .... rrrttttt ... handphoneku bergetar , ternyata ada sebuah pesan singkat masuk .
Seketika semua terasa hening ....
“Terpujilah sang waktu yang mempertemukan aku dengan burung kecil putihku .
Sebuah takdir apa hanya kebetulan semata ?
Aku temukan dia dengan pesona yang penuh luka masa lalu , sehingga membuat dia tidak bisa terbang karena luka-lukanya .
Meskipun penuh luka tapi masih tetap saja tidak menghilangkan pesona keindahan dalam dirinya .
Oh sang waktu …
Ijinkan aku dengan segala dayaku untuk merawat dan menyembuhkan luka-lukanya.
Aku tahu kalau aku tak bisa mengurung dan memilikinya .
Aku hanya ingin melihat dia sembuh dari luka masa lalunya dan melepaskan dia untuk terbang bebas menghiasi dunia dengan keindahannya “
Ku masih terdiam kaku , menatap layar handphone ku , mencoba memahami isi dari pesan singkat itu ...
Tak sedikitpun kata terucap dari bibirku .
Aku tertunduk , kehela nafas panjang .... pikiranku melayang ...
Tau kah kamu ...
“Aku sekarat ...
Aku terluka dalam . Begitu dalam ...
Sayapku hampir patah , dan aku terancam tidak dapat terbang bebas lagi .
Saat ini , tidak ada obat yang mampu menyembuhkan luka itu .
Engkau datang ... menawarkan sejuta harapan .
Aku pun berharap agar kau mampu merawat dan menyembuhkan luka lukaku seperti apa yang kau janjikan waktu itu .
Namun , keadaan sudah berubah ...
Belum juga kau penuhi janji itu , kau sudah pergi jauh meninggalkanku .
Demi sebuah kehidupan yang baru ...
Di sini ... di sangkar kecil ini , aku ... burung kecil putihmu menatapmu kelu .
Mencoba tersenyum padamu ...
Dan inilah senyum terindahku ... hanya untukmu ...
Terimakasih , setidaknya engkau pernah menjadi bagian dari perjalan hidupku . “